![]() |
Malam itu, untuk pertama
kalinya, aku tidak benci keramaian. Tidak juga pada suara gelak tawa di meja
sebelah. Tidak juga pada suara knalpot para pengendara di depan sana. Tidak
juga pada kentang kering yang keasinan. Tidak juga pada kenyataan bahwa kita
hanya sebatas teman.
Malam itu, untuk pertama
kalinya, jantungku terasa dipukul. Nadiku terasa dirobek. Darahku terasa
dibekukan. Rasanya lebih. Lebih-lebih mengerikan ketimbang saat kau memberiku
kehilangan.
Kau menangis, saat penghuni
semesta telah lancang menyakiti semestaku. Mata kecoklat-coklatanmu yang
kucintai; segenap sadar. Untuk pertama kalinya; kehabisan sabar. Dan hal hebat
yang bisa kulakukan cuma menahan dadaku agar tak ikut bergetar.
Kau, ialah kelemahanku dari
nomor satu sampai seribu. Kalau mata milikmu hujan, milikku tsunami. Kalau
badan milikmu terluka, milikku roboh. Kalau hati mulikmu bersedih, milikku
seperti patahan bumi.
Maka sepanjang kau tidak
bersamaku, kudoakan kau tidak pernah terluka. Kudo’akan kau hidup bahagia.
Dengan begitu aku akan baik-baik saja.
Terkadang dalam beberapa
moment, aku ingin mengajakmu melakukan permainan perbandingan. Masing-masing
dari kita akan saling bertukar cerita. Kau yang ditinggalkan kekasihmu. Dan aku
yang diam-diam mencintaimu. Manakah yang paling patah?
Tentu saja kau akan menang,
karena bagiku patah hati yang teramat adalah; ketika kau sudah tak bisa kucintai.
Aku tak peduli, harus
berapa lama lagi harus memendam perasaan ini. Walaupun sebenernya, malam ini
sudah kurencanakan untuk mengutarakan semuanya. Aku membiarkan kau untuk menceritakan
kisah pahitmu. Aku sedia mendengarkan semuanya. Sampai kedai ini tutup. Dan kita
diusir. Aku akan tetap menjadi pendengar setiamu. Aku akan terus mencintaimu.
Aku melihat senyuman itu
kembali. Bibir indahmu kembali berseri. Hatiku sembuh. Jantungku utuh. Ragaku
menguat. Aku tahu kau sudah berdamai dengan kisahmu itu. Jangan kembali patah,
karena aku bosan memberikanmu tisu, mesi harganya tak seberapa. Aku tak ingin
mata indah yang kucintai itu kembali hujan dan pipimu tsunami.
Aku merasa lega. Aku tak
perlu tidur larut. Aku tak perlu menghiburmu sampai subuh. Aku tak perlu
khawatir kalau-kalau kuota internetku habis.
Untuk sementara waktu, aku
akan pergi. Bukan! Bukan meninggalkanmu. Aku hanya ingin menyendiri, mendaki,
dan menapaki alam yang belum kujelajahi. Aku akan menguji diri hingga ke
belantara tersembunyi. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin mencari jawaban
dari sebuah pertanyaan. Adakah sepi yang lebih sunyi, dari ditinggalkan dirimu
untuk dimiliki orang lain? Saat maghrib-maghrib malam Minggu kau dibonceng
lelaki lain.
“Aku mau nanjak besok,
kemungkinan HP-ku bakalan susah sinyal.”
“Oh, ok Bim. Hati-hati,
balik lagi ya!” Tentu saja aku akan kembali, perjuanganku belum usai. Cintaku belum
terurai.
Tidak ada lagi pesan
singkat, aku mengemasi semua peralatan dan perlengkapan untuk bertahan hidup di
gunung. Untuk utuh ketika kembali menemuimu. Semuanya akan kukemas. Tenda,
baju, celana dalam, jaket, makanan, dan
cinta. Aku tak ingin ia hilang, dicuri, atau entah kemana. Semuanya akan
kusimpan rapih.
Mungkin, aku akan menemui banyak
sekali kemungkinan. Tersesat, kedinginan, lapar, dan hal-hal lain yang tak
mungkin sanggup orang lain bayangkan. Tapi aku akan biasa saja, selagi kau
baik-baik saja.
Di gunung, aku banyak
menemui tantangan, kecemasan, takut, sekaligus hal-hal menakujbkan. Seperti pertama
kali mencintaimu. Aku harus melewati semuanya. Aku harus mencapai puncak. Aku harus
mendapatkanmu.
Manakah yang lebih indah?
Puncak gunung atau dirimu? Entahlah.
Cinta ini kubawa ke puncak
gunung. Mungkin gunung akan sangat tidak PD, karena ada yang lebih indah dari
dirinya. Maka, kusempatkan untuk menulis sepucuk harapan. Kata-kata dan
aksaranya kupaksa rapih. Aku yakin saat itu gunung tak mau kalah, ia
menghembuskan udara dinginnya, membuatku kedinginan, sehingga tulisanku butut
mencong-mencong.
Ah, itu hanya alasanku
saja. Maklum.
Tidak ada yang lebih
melelahkan setelah melakukan pendakian, selain mendaki puncak harapan untuk
memilikimu. Melewati banyak tantangan, memaksa ambisi agar terkendali, bersikap
biasa ketika mencemburui, tetap ikhlas mencintai, dan terus menjaga meski
tersakiti.
Beberapa bulan setelah
bertualang, aku kembali. Dan hari itu, adalah hari patah. Sekembalinya aku dari
tempat peraduan, dimana sudah kususun sebuah rencana untuk memilikimu, sepucuk surat
berisi harapan, dan gantungan kunci untukmu. Sirna, sia-sia.
Kau sambut peluhku dengan
sebuah surat undangan pernikahan.
Tidak, ini bukan salahmu. Kau
tidak tahu menahu tentang ini. Aku tidak akan bicara apa-apa. Tidak juga
menceritakan perjalananku. Malam ini untukmu. Untuk kebahagiaanmu, yang katamu
beberapa minggu lalu, jari manismu sudah tersemat. Kau terima iktikad baik dari
seseorang yang kau sangka baik.
Baik jika itu baik, tak
usah tanyakan; apa aku dalam keadaan baik?
Selamat atas rencana pesta
perkawinanmu!
Ku do’akan agar kau hiup
senang, bahagia, tercukupi, dan tak kekurangan. Kau ceritakan rencanamu; petak
rumah, posisi sofa, tebal selimut, nama anak pertama. Saat itu juga, hatiku
mati membiru. Mulutku kaku.
Aku sudahi semuanya. Tenang
saja, perasaanku tak akan pecah. Ia menyelinap disebuah kertas kecil. Disela
huruf-huruf mencong yang ku tulis di ketinggian gunung. Ku simpan sebagai
ajimat sakral. Tak akan hilang dilalap cemburu.
Untuk terakhir kalinya;
Mari kita berdamai. Ucapkan
selamat atas kegagalanku!


Posting Komentar
Posting Komentar