Di balik lelah, kantuk, dan kecewa yang teramat. Aku mencoba memejamkan mata. Mata yang kali ini sudah tak sanggup menyembunyikan pilunya. Sebelum aku berbaring, aku menatapi anak-anak kita yang tertidur pulas. Kali ini tak bisa ku tahan. Air mataku tumpah, menambah warna kemerahan di sklera dan bengkak kecil pada kelopaknya.
Dibalik gelapnya pejam,
batinku menerawang.
Berita yang
kuterima sore tadi, begitu mampu membuatku kepayahan.
Aku bisa saja
tangguh dengan salah-salahmu yang dulu. Tapi kali ini aku kalah. Aku bisa saja
memaafkan salah-salahmu yang dulu. Tapi Mas, batinku saat ini sudah koyak, rapuh,
dan rutin tercabik. Akan butuh waktu panjang agar bisa berdamai dengan hal ini.
Rasanya berita itu terlalu pagi untuk aku yang belum bangun.
Sebelum
menikmati sepi, aku sempat memakaikan selimut tebal untuk anak-anak kita.
Mereka harus tetap hangat, sehat, dan bahagia. Aku berbaring ditengahnya,
menatapi bulu matanya, hidungnya, bibirnya, rambutnya, semuanya. Aku tak mampu.
Wajahmu membayang pada tiap-tiap wajah mereka yang menggemaskan.
Melihat mereka
pulas, asik dengan dunia mimpinya. Tangisku meledak. Aku tak habis fikir, kenapa
kau begitu mampu melukai? Mataku yang dulu sering kau puji, kini sayup layu
terbanjiri.
Akan sangat
egois sekali jika aku terlelap, membiarkan batinku yang kesakitan. Bagaimana bisa?
Sedang kau? Mungkin asik dengan pasangan barumu. Muda, segar, dan
menggairahkan. Ah, kau mungkin akan sangat bahagia disana. Tak akan mendengar
suara melengking dari dapur, ketika si anak bungsu kita jatuh dari ranjang.
Atau ketika cucian terlalu numpuk. Atau ketika memang aku sekadar ingin
bermanja.
Tiga hari ini,
Mas. Aku benar-benar kalah. Sebuah kenyataan itu mampu membuatku lupa bahwa aku
harus makan, mengurusi rumah, membeli stok popok, membeli susu dan mengganti
pasir untuk si Mozza, kucing kita. Kalau sudah begini, siapa yang salah?
Bukankah dari dulu,
aku lebih banyak memaafkan? Lebih banyak maklum atas sikap kurang ajarmu. Aku
sudah buta, tuli, dan mati rasa. Aku akan bisa melihat, mendengar, dan
merasakan jika kau mengizinkan. Tapi kkenapa kesetiaan yang harusnya kau bayar
mahal itu, kau pecundangi dengan banyak kebohongan? Dan terakhir ini dengan
diam-diam, kau mampu menduakan.
Jam empat pagi, waktu biasa. Biasa aku membangunkanmu, aku masih saja tetap terjaga. Aku hanya duduk di depan meja, menulis banyak kecewa, sampai tiba-tiba aku teringat; aku harus menyiapkan teh hangat. Ah, aku lupa kau sedang asik disana.
Tangisku kembali
membuncah. Menetesi tiap-tiap bait tulisanku.
Rumah Kosong
Kamu jangan masuk. Rumah kosong itu aku,
Pras. Yang berandanya penuh oleh daun mangga paling gugur. Yang pintunya bisa
remuk sekali kamu ketuk. Aku sudah ditinggalkan penghuninya. Entah ke mana;
kunciku dibawa, padahal tidak ada apa-apa di dalamnya, kecuali dua mangkuk sup,
dua gelas kaca tempat dua pasang mata pernah menggila dan berkaca-kaca.
Jendela depanku hancur lebur. Anak-anak
tetangga mengataiku seram sambil melempar kerikil tajam. Mereka bilang aku yang
gelap ini pasti berhantu. Aku takut tentu saja. Tapi Pras, hantu paling
mengerikan cuma kenangan belaka. Kesepian hidup yang di dapur, tempat tidur,
kamar mandi, ruang tamu, serta meja makanku lebih-lebih mengerikan dibanding
setan mana saja.
Mangga-mangga yang mentah, matang, busuk, dan jatuh hingga menimbulkan bunyi-bunyi di pekarangan depan terasa begitu mewah buatku. Mereka seperti satu kemasan film dengan mangganya sebagai tokoh utama. Tapi film ini juga terlalu menyedihkan buat ditonton. Sebab tokoh utamanya selalu kelewat matang, ia selalu dijatuhkan angin sore. Dan gugur tanpa pernah dipetik, dikupas, serta dipuji karena manisnya yang kelewat batas.
Kamu jangan masuk. Kesepian punyaku sudah sempurna tanpa cacat. Cukup bunyi mangga jatuh serta pecahan kaca jendelaku yang dilempar batu. Kamu jangan masuk Pras. Meski punya kunci. Meski pintuku bakal remuk sekali ketuk, tolong jangan masuk lagi. Kamu terlalu mengerikan buat kehilangan-kehilanganku. Kamu terlalu sedih buat meja makanku yang menghidangkan banyak kenangan manis.
Kamu bukan penghuniku.
Aku sudah bukan rumahmu.
Paling tidak
Mas, aku akan merasa dihargai jika kau bercerita sejak semula. Aku akan merasa
ada, jika saja kau anggap aku ada. Aku semakin kecewa, yang tanpa
sepengetahuanku, kau lega melangkah mengetuk hati orang lain. Apa yang lebih
membuatmu jiji dari sebuah bawelku? Popok anakmu? Atau wajahku yang mulai
menua? Atau jangan-jangan memang kau yang tak kuat tergoda?
Aku mencintaimu,
bahkan sudah sangat gila.
Tapi Mas, dengan
segenap hati. Aku meminta maaf. Kebohonganmu aku maafkan. Semuanya sudah
kuikhlaskan. Tapi untuk hidup dengan sebelah cinta, rasanya aku tidak akan
sanggup.
Dengan
kerendahan hati, aku mengharapka. Tolong lepaskan!
Jangan khawatir,
anak-anak aku yang urus. Do’akan agar mereka, tumbuh dewasa, bahagia, dan tak
kekurangan.
Suatu saat nanti,
jika kau ingin bertemu dengan mereka, temuilah! Aku tak akan melarang. Dan
Jangan lupa, beri mereka jajan. Karena mungkin, uangku tak akan cukup untuk
mengajak mereka ke pasar malam, atau tempat permainan.
Maafkan aku, jika sepanjang perjalan ini tidak sempat menjadi istri yang sangat kau harapkan. Maklumilah, aku hanya seorang manusia yang perlu kau lengkapi kurangnya. Ditemani sepinya, dibujuk marahnya, dibimbing akhlaknya. Dan kata-kata kasarmu, tak sepatutnya kau suguhkan. Aku terlalu rapuh dalam hal perasaan.
Mas, lepaskan!
Aku pamit
pulang.


Sad storry... Kang Mas Imam ini kalau liat beberapa ceritaa kebelakang, pinter bercerita yang bikin orang tertarik. Yang ini di paragraf awal sudah membuat penasaran, walaupun kuncinya sudah di taruh di Tengah bukan diakhir. Beberapa kalimat yang tidak baku seperti kata fikir(pikir), penulisan di, emang belum baik. Tapi cerita ini sudah sangat baik. Good job
BalasHapus