Pagi ini Rani sudah
siap mengikuti kegiatan di sekolah. Ia memang gadis yang rajin dan cerdas.
Beberapa kali ia pernah mendapatkan pengharagaan sebagai siswi terbaik di
sekolah, ia baru saja berhasil menjuarai lomba menulis dan membaca puisi antar
sekolah di tingkat Provinsi. Itu semua ia peroleh atas kerja kerasnya, sering
kali ia pulang terlambat hanya karena keasikan membaca buku dan berlatih sampai
sore di perpustakaan.
Karena kecantikan
dan kecerdasannya, tak ayal ia banyak yang naksir.
Rani memang gadis imipian banyak pria, di laci mejanya banyak sekali surat
cinta dari teman-teman dan kaka kelasnya. Ia sengaja tidak membuang surat-surat
itu, menurutnya itu untuk menghargai orang-orang yang sudah berani
mengungkapkan perasaannya. Tapi Rani bukanlah perempuan yang mudah luluh
hatinya, apalagi hanya dengan secarik kertas dengan potongan sajak pendek hasil
copy paste dari novel Tere Liye, Boy
Candra, atau buku-buku novel romantis lainnya.
Sebelum bel sekolah
berbunyi, Rani sudah berdiri di seberang sekolah yang sangat ia banggakan itu. Ia
melebarkan senyum bahagia menatap gedung dua lantai, di sekelilingnya halaman
hijau dengan pepohonan yang rindang menyejukan, tumbuhan cedar dicukur rapi dibalik pagar ikut membentengi pelataran, menunjukan bahwa sekolah ini sangat memperhatikan kebersihan, keamanan dan kenyamanan lingkungan. Pagi itu, bangku-bangku di bawah pohon masih dibasahi embun, beberapa di atasnya ada daun-daun yang gugur sisa diterjang angin
dan hujan semalam, tepat di tengah-tengah pelataran sebuah gerbang menjulang dengan gagahnya,
diatasnya terpampang jelas sebuah nama “SMAN PERTIWI”, di sampingnya berjajar
rapih dan kokoh pagar dari besi dan tembok mengelilingi luasnya pekarangan
sekolah, cat biru muda mewarnai setiap jengkal gerbang, pagar, dan dinding
sekolah yang membuat sekolah itu tampak lebih cantik.
“Beruntung banget
gue bisa sekolah di sini.” Gumamnya.
“Ran, ayo cepetan
masuk!” Dari seberang tempat ia berdiri, seorang perempuan cantik beteriak
memecahkan lamunan Rani yang sedari tadi memperhatikan gedung sekolah.
“Eh, iya Din gue kesitu.”
Dengan sedikit terburu-buru ia menghampirinya.
Dina adalah sahabat
terdekat Rani di sekolah, ia sering ditemani untuk sekadar pergi ke perpustakaan,
menyelesaikan tugas, pergi ke kantin, ke toilet, dan kemanapun selama di
sekolah. Dina sama cantiknya dengan Rani, baik dan selalu menjadi tempat
mencurahkan keluh kesahnya ketika ada masalah, pun begitu juga dengan Dina.
“Aduh ciiin, selamat ya! Kemaren penampilan lo
keren banget, sumpah!” sambut Dina memuji sambil mencubit gemas pipi Rani.
“Aduuuh, thank you yaaa. Makasih juga loh
udah suport gue dari awal sampe gue
juara. Lo emang sahabat gue paling the
best deh. Uuunnncchh!!” Hatinya
melambung bahagia, Rani sedikit menahan tangan sahabatnya yang mencubit kegemasan itu.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju kelas
melewati lorong yang masih sepi, melewati beberapa
ruangan dan menyisakan
keras suara bunyi derapnya di lantai pualam. Setiap sudut ruangan
tersedia CCTV, sehingga meskipun jauh dari kawasan guru mereka tetap
dalam pengawasan.
Drap
drap drap ...
Agak lama mereka tiba di kelas
karena letaknya di lantai dua penghujung gedung itu.
Mereka harus menaiki tangga
untuk sampai ke ke kelas dan kembali melewati beberapa ruangan lain.
Setibanya di kelas, Aldo
sudah mematung di bangku urutan pertama.
“Tumben banget lo
berangkat pagi-pagi, ada angin darimana? Gak mimpi kan gue?” Dina keheranan,
pasalnya si Aldo yang bandel itu adalah siswa pemalas dan sering banget dihukum
gegara kesiangan.
“Ya terserah gue
dong, gue mau berangkat malem kek, beragkat subuh kek, kan hak gue. Sirik
banget lo!” Sungut Aldo menggerutu menimpal Dina.
“Elaaah, gitu aja sewot lu!” Tanga Dina sibuk merapikan bangkunya, sementara di hadapannya, Rani sedang merapikan buku-buku untuk
belajar hari ini.
“Ran, selamat ya!” Aldo
mendekatkan jarak, tangannya nyosor menyalami Rani, di genggamannya sudah
terselip sepucuk surat, “baca ya suratnya!” Bisik Aldo. Rani hanya diam dan
membalas dengan anggukan kecil.
Dari pintu kelas Amel
sudah berdiri, tangannya ditengkuk dan menempel pada pinggangnya yang membulat itu, tak lama ia memasuki kelas kepalanya enggan menoleh ke sekeliling,
bola matanya hanya melirik culas, bibirnya yang tebal seakan-akan haram untuk
menyapa ketiga makhluk yang ada di dalam kelas waktu itu, ia membantingkan tubuhnya
yang bongsor di bangku tempat ia duduk, di telinganya terpasang earphone. Rani, Dina
dan Aldo mengangkat bahu saling menatap keheranan dengan sikapnya yang begitu
saja dari dulu, mereka sudah tidak aneh dengan sikap juteknya itu. Rasanya
ruangan kelas bakalan meledak lantaran kaget kalau-kalau si jutek itu menyapa
meskipun satu kata. Ah, itu mustahil.
Disela-sela
pelajaran belangsung, diam-diam Rani membuka lipatan kertas yang diberikan Aldo
tadi. Perasaan geli tak bisa ia sembunyikan, beberapa kali ia menutup mata
terpaksa dan Iiiiwwww bibirnya
mengkernyit. Bagaimana tidak, tulisan si Aldo jelek parah, butuh perjuangan
untuk dapat membaca huruf-huruf di surat itu. Setelah susah payah ia menerka
tulisan itu, ia menemukan beberapa kata yang tak kalah membuatnya lebih geli
lagi.
Dear: Rani Kumala
Bla bla bla....
“AKU
CINTA KAMU”
Bla bla bla....
Sekian.
Dari Aldo yang
mendambamu
Iiiiwww, Rani bergidik tertahan. Ah, gue
nyesel bacanya! Lanjut gumamnya.
Dilipatnya dan disimpannya kembali kertas itu di laci tempat membungkam puluhan surat
cinta yang tak terbalaskan satu pun, tanpa menyentuhnya untuk kedua kali, dan
sia-sialah perjuangan Aldo semalaman merangkai kata, berangkat pagi buta hanya
untuk menyampaikan surat itu.
Treeeeeettt....
Suara alarm tanda
kegiatan belajar sudah berakhir terdengar jauh dari pojok sekolah, tapi sangat
jelas sekali untuk telinga-telinga siswa yang tak kuat belama-lama duduk di
kelas, seakan mereka adalah tahanan yang sudah betahun-tahun dikurung di dalam
jeruji besi dan sekarang waktunya keluar dari penjara yang mengerikan.
Bagi Rani tidak ada
yang lebih mengerikan di sekolah, selain membiarkan dirinya bodoh karena tidak
memanfaatkan kesempatannya untuk pergi ke perpustakaan, tempat dimana 26 huruf
berkumpul, terbukukan, dan mampu menyelipkan hamparan pengetahuan di setiap
lembarnya.
Ia mengemas
barang-barang di masukannya ke dalam tas. Ia sempat menghampiri Aldo yang sudah berdiri di depan
kelas menunggu jawaban dan berharap seorang Rani yang cantik dan cerdas itu
dapat menerima cintanya sebelum mengasingkan diri ke perpustakaan.
“Sorry ya do, gue
gak bisa. Gue gak mau pacaran sama siapapun, gue mau fokus sekolah, pendidikan
gue lebih penting daripada hanya sekadar haha hihi pacaran gak
jelas!” cetus Rani yang langsung meninggalkan Aldo begitu saja, disusul Dina membuntuti
Rani sambil menatap Aldo keheranan. Jelas, Dina ini tidak tahu apa yang
sahabatnya ucapkan itu. Ia baru mengerti setelah Rani berbagi kegeliannya itu
sambil berjalan melewati ruangan di sepanjang lorong. Dina hanya tertawa kecil
ikut merasa geli dengan apa yang Rani ceritakan.
Aldo hanya terdiam,
mukanya merah padam. Tak ada kesempatan untuk membujuk dan bernegosiasi agar
mendapat kesempatan. Entah apa yang ia fikirkan setelah itu, yang pasti itu
kenyataan pahit bagi Aldo. Batinnya sakit ketika perempuan yang ia sukai hanya
menilai dirinya dari secarik kertas dengan tulisan yang buruk. Benar-benar
tidak ada kesempatan untuk menjelaskan bahwa perasaannya tidak seburuk
tulisannya. Ia menunduk menyembunyikan mukanya agar tak telihat kalah karena
perasaannya sendiri.
Setelah sekolah seharian, kamu melihat ibumu sedang
memeluk adikmu.
Kamu tidak tahu mana
yang lebih menakutkan; melihat ibu dan adikmu yang
sudah mati, atau ada yang menyusup masuk ke kamarmu untuk menaruh
mereka di sana.
Setelah pulang
sekolah, tepat di depan gerbang halaman rumahnya, sedikit jauh dengan pintu
masuk ke rumahnya, Rani menerima sebuah pesan singkat dari nomor yang sama
sekali tak ia kenal sebelumnya. Ia kaget dengan isi pesan singkat tersebut, ia
berlari dan seketika langsung membuka pintu dengan kencang.
Braakk ....
Pintu terbuka dengan
kencangnya, “Ibuuu! Ibuuu!” Panggilnya setengah berteriak, kepalalanya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat
setiap sudut rumahnya, berharap tidak terjadi apa-apa dengan dua orang yang ia
sayangi, namun tidak ada jawaban. Hanya sepi yang ia dapatkan.
Ia benar-benar
merasa takut, bayangannya menelesup ke sebuah kamar, tepat di sebelah kiri
tempat ia berdiri. Bagaimana jika ibu dan adikku benar-benar ada yang
membunuh? Fikirannya berkecamuk, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Matanya sudah berkaca-kaca, ia terduduk lemas di sebuah kursi ruang tengah,
kepalanya menunduk tak mampu menahan kenyataan yang sulit sekali untuk
dipercaya. Ia mengingat-ingat kesalahan apa yang keluarganya perbuat,
sampai-sampai ibu dan adiknya dibunuh. Ia merasa bahwa keluarganya tidak
pernah ada masalah dengan siapapun. Ditengkuk dan dipeluknya kaki Rani dengan erat, kali ini ia benar-benar ketakutan.
Kerekeeeeettt ...
Tiba-tiba suara
pintu kamar terbuka dibarengi sebuah nada datar seorang perempuan yang bertanya keheranan dari balik pintu kamar.
“kenapa sayang? Kok
teriak-teriak?
Huuuuh, Rani menghela nafas merasa lega. Ternyata ibunya masih hidup, adiknya tidur terlelap
di pangkuan ibunya. Sialan, siapa yang mengerjaiku? Gerutunya
dalam hati. ingin sekali ia marah, tapi tidak tahu harus bagaimana.
Rani hanya
menggelengkan kepala untuk menjawab ibunya. Lalu pergi ke kamar untuk
berisitirahat dan mandi. Ia benar-benar tidak habis fikir, siapa yang melakukan
hal bodoh seperti itu. Ini benar-benar tidak lucu, hatinya menggerutu.
Aneh sekali anak
itu? Dahi ibu mengkerut keheranan mendapati anaknya
tidak seperti biasanya. Ah, mungkin ia mengira aku pergi ke pasar
karena hari ini rumah lagi sepi. Ibu mencoba untuk bersikap biasa
saja. Hal wajar jika seorang anak perempuan takut ditinggal pergi.
Setelah merendamkan
tubuhnya di bathub, setengah menenggelamkan kepalanya, Rani merasa sedikit
tenang, air yang masuk ke pori-pori kulitnya seolah memberikan energi positif
untuk tidak memikirkan hal bodoh yang ia lewati seharian ini; si Aldo yang nembak dia di surat dengan tulisan butut dan pesan singkat yang membuatnya
kesal bukan kepalang. Batinnya berusaha untuk memberikan sugesti positif, bahwa
semuanya baik-baik saja. Tidak ada apa-apa! Tidak ada apa-apa! Begitu
gumamnya sampai ia sendiri benar-benar yakin bahwa memang tidak akan terjadi apa-apa.
Esok hari, Ia menjalani aktivitas seperti biasanya, tidak ada yang aneh; di rumah,
di jalan, di kelas, Dina, Amel, teman-teman dan semua berjalan senormalnya.
Kecuali lelaki yang kemarin mengutarakan perasaan cintanya. Aldo hari ini
terlihat lebih banyak diam, pun tidak menunjukan kekecewaannya terhadap Rani.
Sesekali ia kedapatan menatap tajam penuh makna ke arah Rani dari kejauhan,
tapi itu tak dapat mempengaruhinya. Ia tetap cuek dan mengabaikannya.
Sepulang sekolah,
tidak ada perasaan aneh yang Rani fikirkan sampai matahari terbenam. Sekitar
pukul 09.00, sebelum tirai jendela di kamarnya akan ia tutup, ia kembali menerima
pesan singkat dari nomor yang sama.
Jangan tutup tirai
jendelanya, atau kau akan melihatku dibawah pohon mengenakan jubah hitam dan
pelan-pelan menyelinap ke kamarmu untuk menyayatkan pisau ini ke kulit
putihmu!
Peduli setan,
sekarang gue gak bakalan percaya dengan pesan singkat bodoh macam ini lagi. Fikirannya sudah kebal, tidak akan kalah lantaran ditakut-takuti, ia
percaya pesan itu hanya ingin membuatanya gemetaran dan mati lantaran
jantungnya copot karena ketakutan.
“Tapi aku bukan
gadis cengeng!” Dengan berani ia membalas pesan
singkat itu. Karena ia percaya itu hanya tipuan.
Tidak akan ada
apa-apa, ia mencoba mensugesti hal positif kembali kepada
dirinya sendiri sambil melangkahkan kaki mendekati jendela untuk menutup
tirainya. Karena penasaran ia mencoba menoleh keluar halaman rumahnya dibalik
jendela.
Kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu, benar saja tidak apa-apa, sampai ia teringat dengan pohon mangga di pojok kanan halaman rumahnya yang gelap itu.
Perlahan ia menolehkan kepalanya, gemetar, ragu-ragu,takut, dan penasaran mendera batinnya. Sedikit mengkerutkan matanya, menatap tajam agar dapat melihat dengan jelas tempat yang minim pencahayaan itu.
“Oh, ya ampun!” Mulutnya
seketika ia tutup erat dengan kedua tangannya, buru-buru ia tutup
tirai jendela di hadapannya, berlari, dan membantingkan tubuhnya di atas kasur,
menyembunyika dirinya di bawah selimut, tidak boleh ada satu
jengkalpun tubuhnya yang terlihat. Ia merasa takut yang sangat hebat.
Jantungnya berdegup kencang. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat,
sosok berjubah hitam tinggi sedang berdiri tepat dibawah pohon mangga sedang
berdiri dan mengangkat pisau putih mengkilat ke arahnya.
Sekarang semuanya
sulit untuk dikendalikan. Seorang perempuan usia remaja tidak mungkin bisa
mengatasi masalah ini sendirian. Ia tidak bisa berfikir tenang, tidak juga
untuk berteriak, bagaimana jika sosok itu sudah benar-benar ada di
dekat jendela? Sekarang tubuhnya benar-benar sudah berkeringat panas dingin.
Ia tidak mungkin berlari dan membangunkan ibunya, bagaimana jika sosok
itu benar-benar sudah berada di sini dan bersiap mengulitiku hidup-hidup? Malam
itu ia benar-benar akan melawan ketakutannya sendirian. Ia tidak akan bisa
melawan, ia benar-benar pasrah jika memang malam itu adalah malam terakhir
dalam hidupnya.
Tiba-tiba ditengah keheningan, di antara ketakutannya yang belum hilang, ia mendengar suara.
Trek... trek... trek...
Rani blingsatan
ketika mendengar kaca jendelanya dipukul pelan dengan benda tajam, ia
yakin itu suara pisau diacungkan ke arahnya.
Trek... trek... trek...
Suara itu berulang, kini
Rani hampir mati ketakutan. Ia benar-benar akan terjaga semalaman. Dengan menyipitkan
matanya, ia mencoba menggerakan bola matanya untuk melihat sesuatu di balik jendela.
Astaga sekarang ia benar-benar menangis ketakutan melihat sesosok bayangan
berdiri di balik jendela kamarnya.
Malam itu ia
habiskan dengan suasana yang mencekam. Ia terjaga sampai pagi benar-benar datang.
Huuuuh, tadi malam itu apa? Fikirannya masih
membayangkan kejadian semalam, ia sungguh tidak percaya.
Pagi ini ia berusaha
menahan kantuk dan lemas untuk tetap bersekolah, ia menahan diri untuk
menceritakan kepada ibunya, sekarang ia hanya ingin menemui Dina. Ini
harus cepat gue ceritakan, Dina mungkin tahu siapa yang menerorku dua hari ini. Batinnya
menggeram sekaligus bingung dengan teror yang ia dapatkan dua hari ini.
Din, lo berangkat
pagi-pagi ya! Gue butuh elo. Ada yang mau gue ceritain!
Ia sempat mengirim
pesan singkat kepada Dina sebelum berangkat sekolah. Ia tahu kondisinya tidak
begitu vit untuk pergi ke sekolah, tapi ini tidak mungkin dibiarkan. Ini harus
cepat di selesaikan, atau ia akan mati konyol ketakutan.
Setelah beberapa lama,
mereka bertemu di sekolah. Keadaan Rani sangat mekhawatirkan, wajahnya pucat
karena terjaga semalaman dan sampai saat ini rasa takutnya belum hilang. Dina
mecoba menenangkan di sela-sela cerita menyeramkan yang ia sendiri ikut merasa merinding. Rani tak bisa berhenti untuk menceritakan disetiap detiknya kejadian yang dialaminya tadi malam, berharap Dina dapat membantunya.
“Eh, bentar deh. Lo bukannya kemaren abis nolak si Aldo ya? Apa
jangan-jangan dia ya yang neror lo? Mungkin aja dia gak terima sama keputusan
lo.” Prasangka Dina menguatkan bayangan siapa yang
berbuat setega itu, “itu sudah benar-benar tidak wajar.” Lanjutnya semakin yakin.
“Eh, apa iya ya? kemaren gue ngerasa dia memang
agak beda sih di kelas. Dia lebih banyak diem,dia juga sering banget perhatiin
gue. Ah, bajingan tuh cowok beraninya ngerjain cewek, bangsat!” Rani mendengus menahan amarah, “liatin
aja! Gue gak bakalan tinggal diam!!” Matanya semakin tajam menatap
dinding kelas dihadapannya, ia masih tidak percaya si Aldo bisa berbuat senekad itu.
Ketika jam istirahat, Rani tak tinggal diam. Ia menemui
Aldo di kantin.
“Eh, gue tungguin lo ya sepulang sekolah di depan perpustakaan. Kalo
emang lo cowok buktiin! Gue gak suka ya dengan lelucon lo yang tolol itu!” Rani secara tiba-tiba menerjang Aldo dengan ucapan kasar lantaran emosi, ia langsung pergi secepatnya.
Aldo sangat
keheranan dengan ucapan Rani, sementara Amel yang sedari tadi berada di kantin terdiam memperhatikan mereka, seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin ia juga merasa heran. Tapi peduli apa ia
tentang orang lain. Seorang Amel akan tetap diam meskipun di depan matanya ada seorang
teman sedang sekarat lantaran di mutilasi.
Sudah waktunya
pulang, mereka buru-buru mengemasi buku dan barang lainnya, Dina dan Rani
setengah berlari menuju perpustakaan, tak sabar menunggu si pengecut Aldo
menghampiri mereka. Niatnya, ia bakalan memberondong Aldo dengan seribu makian,
ia bakalan melaporkan kejadian itu jika Aldo tidak minta maaf.
“Lama banget tuh
orang, nunggu di dalem aja yuk!” Dina
menggerutu sambil berjalan masuk ke perpustakaan.
Sudah sekitar tiga
puluh menit mereka menunggu kedatangannya.
Setelah sedikit
menyenderkan tubuhnya di kursi, Rani melihat secarik kertas di hadapannya dan terdapat tulisan dengan spidol berwarna merah yang membuat mereka
tercengang sekaligus benar-benar menambah yakin bahwa ini semua memang ulah
Aldo.
JANGAN
MACAM-MACAM!!!
Belum habis ketakutan mereka, tiba-tiba seorang petugas keamanan sekolah menghampirinya.
Belum habis ketakutan mereka, tiba-tiba seorang petugas keamanan sekolah menghampirinya.
"Perpustakaan
sudah hampir tutup.” Pak satpam mengingatkan mereka, "Kenapa
kalian belum pulang?” tanyanya.
“Ki... kita
harus mengumpulkan tugas besok pagi jam 7 pak.” Jawab Dina berbohong.
"Maaf,
bisa gak Pak kita berada di sini sejam lagi? Kita yakin bakalan
menyelesaikannya sebentar lagi.” Timpal Rani yang juga ikut berbohong dibarengi kesal
terhadap Aldo yang belum juga muncul.
“Baik,
kalau begitu ada baiknya saya menemani kalian
di sini sampai tugas kalian selesai,” jawab satpam tersebut, “Saya akan berdiri di
sini untuk memastikan kalian aman.”
Rani dan Dina merasa sangat berterima kasih pada
satpam tersebut. Mereka bisa aman kalau-kalau Aldo akan mencelakai mereka berdua, karena sekarang
satpam sudah berjaga di belakang mereka.
Hingga
saat mereka pura-pura mengerjakan tugas, tiba-tiba...
Tok ...
Dina menjatuhkan pensilnya. Ketika Dina
membungkuk untuk mengambil pensil tersebut, ia melihat sesuatu yg sangat
menakutkan.
Dalam
keadaan ketakutan, Dina memungut pensilnya
dan segera mengepaki barang-barangnya.
“Ayo
kita pulang!” ajak Dina kepada Rani.
“Kenapa,
kita kan belum selesai?”
“Pokoknya
kita pulang sekarang!” Dina sedikit memaksa.
“Tidak!
Aku mau menyelesaikannya dulu.”
“Terserah lo!” Dina segera pergi
dari sana dengan
terburu-buru dan meninggalkan sahabatnya sendirian bersama petugas keamanan itu. Dengan keheranan dan agak kesal, Rani meneruskan kepura-puraanya
mengerjakan tugas dan berharap Aldo segera datang, ia akan segera menghajar
lelaki bajingan itu.
•••
•••
Tak lama, HP-nya berbunyi. Ada
pesan singkat masuk dari nomor Dina sahabatnya.
Jatuhkan pena lo, ambil, lalu lihat kebelakang. lo bakalan ngerti
Rani kebingungan, dan akhirnya melakukan apa yg Dina perintah. Ia menjatuhkan
penanya dan membungkuk untuk mengambilnya.
Lalu
iapun melihat sesuatu yang sangat
mengerikan.
Kaki
sang satpam itu melayang tanpa sedikitpun menyentuh tanah.
Rani hendak berteriak karena ketakutan, namun ia menutup
erat mulutnya dengan
kedua tangannya.
Setelah
menenangkan dirinya, iapun menaruh kembali penanya ke atas meja lalu segera
mengepaki barang-barangnya.
“Kamu
mau pulang? Bukannya tugasmu belum selesai?” Suara berat sang satpam itu
membuat Rani bergidik ngeri.
“Ya...ya
pak, tapi saya harus pulang... sudah sangat sore” Rani mencoba menyembunyikan ketakutannya.
Saat
ia
hendak pergi, satpam itu mendekat dan membungkuk di belakang Rani. Ia berbisik dengan
suara beratnya tepat di telinga Rani.
"Sudah
malam.. atau sudah tau?"
Rani hilang kendali, ia berlari sekencang mungkin
meninggalkan semua barang-barangnya di perpustakaan. Ia enggan kembali ke
sekolah, ia sangat ketakutan. Ia tak ingin mengingat nama Aldo.
•••
Sekarang Rani harus di rawat di salah satu tumah sakit,
kejiawaanya terganggu. Remaja usia SMA tidak ada yang tahan dengan hal-hal
mengerikan seperti itu. Dina sahabatnya memutuskan untuk pindah sekolah setelah
kejadian itu.
Beberapa hari kemudian Aldo diperiksa pihak kepolisian
karena tuduhan teror terhadap Rani dan Dina. Anehnya, ia tidak terbukti
bersalah.
Ketika kejadian tersebut Aldo tidak berada di sekolah. Ia
sudah pulang terlebih dahulu karena harus mengurusi ibunya. Ternyata selama ini
ia sering terlambat ke sekolah karena harus mengurusi ibunya yang sakit menahun, ibunya mengalami stroke sejak ia masuk SMA.
Lalu, kalau bukan Aldo siapa yang melakukan itu semua? Guru-guru di sekolah itu kebingungan dengan kejadian
misterius di perpustakaan. Pasalnya, baru kali ini ada kejadian semengerikan
itu di SMA ini.
Tiba-tiba...
Sesuatu yang lebih mengherankan terjadi, pada malam hari di
halaman sekolah, Amel menggantungkan lehernya di sebuah pohon besar di halaman
sekolah sebelum para petugas kepolisian menangkapnya.
Amel dinyatakan sebagai tersangka atas kejadian itu, semuanya
terungkap setelah nomor tak dikenal dilacak oleh pihak kepolisian dari HP milik
Rani yang tertinggal di perpustakaan.
Semua guru, siswa dan siswi merasa aneh dengan kejadian
ini. Rupanya Amel menyimpan dendam kepada Rani, ntah karena Rani lebih cantik,
cerdas, ataukah karena banyak yang suka. Semua orang benar-benar tidak mengerti
dengan tindakan Amel, ini akan menjadi misteri yang susah untuk diungkapkan.
Secara, Amel adalah siswi yang jarang bergaul, ia cuek kepada semua orang, dan
tak pernah menceritakan apapun.
Ketika mayatnya di identifikasi, polisi menemukan secarik
kertas di saku celana Amel yang bertuliskan;
BUKAN AKU YANG MENGERJAINYA DI PERPUSTAKAAN!!!
Semua orang semakin keheranan.
Kalo bukan Amel, lalu satpam yang berada di perpustakaan menghantui
Rani dan Dina itu siapa??





Posting Komentar
Posting Komentar