DENDAM



“Nyet, gimana nih?” Dunan menggigil menahan dingin, “gue udah lemes, lagian ngapain sih lu maksa banget ngajak gue ke gunung?” Pertanyaannya tak pernah kujawab jelas. Alasanku cuma satu, mengajaknya mendaki ke puncak gunung. Selama pendakian ke gunung ini, ia bawel sekali, memberondongku dengan pertanyaan yang sama.

 

Mau ngapain kita ke gunung angker ini?

 

Sejak dulu aku dan Dunan biasa berpertualang, termasuk mendaki pegunungan yang ada di Indonesia. Kita adalah sahabat dekat. Ya, kurang lebih begitu, sebelum aku dipecat beberapa bulan yang lalu, sebelum aku melihat percakapan atara dia dengan atasanku di kantor. Dan karena sekarang aku pengangguran, aku lebih banyak waktu luang. Oleh karena itu , sebagai sahabat yang baik, aku mengajak Dunan untuk mendaki.

 

Sudah hampir tiga jam kita menyusuri hutan. Hujan lebat dan gemuruh petir saling bersahutan, suasana semakin mencekam. Semua peralatan dan perlengkapan kuyup disiram hujan. Sembari bertahan dari hawa dingin yang mulai menguliti tubuh, aku melihat-lihat sekitar, berharap ada sedikit tanah landai untuk mendirikan tenda. Tetapi alam sedang tidak bersahabat. Pohon-pohon besar, matahari yang sudah terbenam, dan kabut tebal membuat pandangan semakin kabur. Sementara itu Dunan sibuk menyalakan headlamp sekarat dihantam hujan.

 

Kita mencoba untuk bertahan sampai hujan reda, berlindung dibawah pepohonan yang rimbun, mencoba menghangatkan tubuh dengan menggosokan kedua telapak tangan. Sialnya, hujan tetap deras. Resiko terberat kita saat ini adalah hypotermia. Kita bisa mati kedinginan.

 

Tubuhku terseok-seok mencari suatu jalan di hutan belantara ini, jalan yang pernah Bah Sapta ceritakan. Semuanya tampak begitu menakutkan. Aku mengeratkan pegangan pada tracking pole. Sesekali ku tusuk-tusukan pada tanah yang ada di hadapanku, karena yang lebih menakutkan dari hawa dingin adalah; terperosok ke dalam jurang yang dalamnya belasan meter, disergap binatang buas, atau tersesat di tengah hutan ini. Selamanya.

 

Ada sesuatu yang janggal dengan tempat ini. Ketika langkahku sudah setengah gontai, sembari terus menerabas rerimbunan semak belukar, sayup-sayup aku mendengar alunan gamelan dan kidung berbahasa Sunda kuno. Suaranya jauh, tapi jelas sekali terdengar di telinga.

 

Ah, ini dia. Fikirku.

 

“Nyet, kita dimana ini?” Dunan ketakutan, heran, dan tempat ini asing baginya.

 

Di bawah pepohonan besar yang menjulang, sebuah gubuk tua beratap ijuk, terbuat dari kayu dan bambu berdiri setengah reot, di dalamnya banyak makanan seperti sesajen; ayam, sayur, buah, dan teh hangat. Setelah kulihat-lihat sekitar, aku mencoba untuk memanggil si empunya gubuk untuk permisi numpang berteduh, tapi sama sekali tak ada jawaban.

 

Aku semakin yakin, ini tempatnya.


Beberapa bulan yang lalu, tepat sehari setelah aku dipecat, aku menemui Bah Sapta. Bah sapta adalah kakek tua yang sudah profesional di dunia perdukunan, ia hidup sebatang kara, tinggal di suatu kampung yang jauh dari hiruk pikuk, dan tempat peraduan orang-orang yang ingin meminta pertolongan kepadanya. Santet,guna-guna, tumbal dan hal mistis lainnya.

 

“Kamu yakin? Perjalananmu akan berat.” Suaranya lemah seraya memberiku kesempatan untuk berfikir dua kali.

 

“Yakin Kek.” Pendirianku kukuh.

 

Setelah bernegosiasi, Bah Sapta menceritakan perjalan yang harus aku lewati. Pertama-tama aku harus masuk ke jalur pendakian Gunung Larang yang tak banyak orang ketahui, sehingga akan sangat kesulitan jika sesuatu terjadi padaku. Lokasinya akan menjadi rahasia terbesarku bersama Bah Sapta. Aku harus masuk ke tengah hutan dan keluar dari jalur pendakian yang menukik, dan gelap dimakan pepohonan besar, aku harus terus berjalan; kemanapun, asal tetap berada di sana, sampai aku menemukan satu gubuk tua yang di dalamnya terdapat sesajen, sampai suara gamelan dan kidung akan terdengar. Itu artinya aku sedang berada di dunia jin. Aku bebas meminta apa saja pada dedemit yang ada disana. Aku akan meminta sesuatu yang selama ini ku pendam. Aku akan aman selama diperjalanan, aku sudah dibekali beberapa keperluan untuk ritual disana. Menyan, segenggam nasi, dan keris tua.

 

Dalam keadaan lelah, aku mengajak Dunan untuk berteduh di gubuk itu. Ia sedikit tercengang dengan ajakanku.

 

“Lu gak salah? Kita gak boleh gegabah!”

 

“Lu mau sampe kapan nyari jalur?” Tegasku, “udah kita istirahat dulu disini, besok siang kita lanjutkan perndakian”

 

Matanya bergerilya melihat-lihat sekitar.

 

Setelah sedikit ku paksa, akhirnya bak kerbau dicocoki, ia menurut. Aku menyuruhnya untuk minum teh hangat di gubuk itu, sebelum kita sama-sama melahap makanan yang tersedia.

 

“Udah makan aja. Gue tanggung jawab.” Tekanku ketika menyuruh ia untuk makan-makanan yang ada di gubuk, “lagian yang punya gubuk juga gak ada.” Aku mencoba untuk menenangkannya.

 

Saat itu, kita makan dengan rakusnya. Tak ada yang tersisa. Sampai tiba-tiba, Dunan menahan kepalanya dengan erat, ia seperti menahan sakit, penglihatannya kabur, ia tak mampu melihatku yang ada dihadapannya. Hampir ia memuntahkan makanannya lagi.

Aaaaaaaa, ia menjerit dan tergeletak tak sadarkan diri.

Ha...ha..ha...  Aku tertawa sangat kencang, melihat ia sebentar lagi akan mati.

Cepat-cepat kukeluarkan peralatan ritual dari ranselku, menyan putih, nasi segenggam dan keris tua pemberian Bah Sapta sudah ku pegang. Sambil kemenyan putih kubakar, aku mebacakan mantra-mantra pengundang penunggu gunung larang, dengan berteriak sekuatnya aku perintahkan untuk membunuh Dunan.

Seja amitan ka para lelembutan
Nu kakurung ku wawangunan
Bisi kageuleu
han, kakeumeuhan, katajong, kakoer, kagandengan, ku prilaku manusa
Kaula rek nyandak
jasad manusa
Kudu runtut, paut, anut, patut ka
aing
Ulah hiri, ulang dengki, jail, kaniaya ka
aing

 

Bul kukus menyan putih

nyanggakeun sangu putih sapulukaneun

Nyanggakeun  kukus pangundang

kanu seda kanu sakti

nyatana jurig gunung larang

 

Paehan ieu jelama anu nyangkere hareupeun aing

Dunan Dunan Dunan

 

Tiba-tiba angin dari luar gubuk menerjang pepohonan dan tempat yang kita singgahi ini, suaranya bergemuruh, ribut, merusak dahan dan ranting di sekeliling. Segenggam nasi yang ku genggam tiba-tiba hilang, aku tau sajen nasi sudah dimakan penunggu gunung ini. Aku mencabut keris dari serangkanya, kuangkat tinggi-tinggi. Aku meneriakkan seruan kepada para penunggu huta, untuk membalaskan dendamku selama ini.

Wahai penunggu gunung larang...

Wahai penunggu gunung larang...

Wahai penunggu gunung larang...

Bantulah aku !!!

Balaskan dendamku !!!

Makanlah manusia yang ada di hadapanku !!!

Hisaplah darahnya sepuas kalian !!!

 

Seketika itu Dunan muntah, dari mulutnya keluar banyak darah, wajahnya pucat, matanya setengah terbuka, lemah, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Aku sempat mendengar ia meminta tolong ketakutan, suaranya lemah, tubuhnya seperti tak bertulang.

“Ha...ha...ha... Rasakan itu bangsat! Selama ini gue pendem semuanya. Sekaranglah waktunya membalaskan dendam gue. Ha...ha...ha...!” Aku terbahak-bahak menertawainya, “sekarang gue puas!” dia mati mengenaskan.

 

Semuanya sudah berakhir; pekerjaan, persahabatan, dan nyawa. Aku kecewa atas sikapnya yang diam-diam mengkhianatiku, dia adalah penyebab mengapa aku dipecat dari perusahaan impianku. Dia seolah tidak menyukai jabatan yang kuterima waktu itu, sehingga dia menghasut atasanku, memfitnah bahwa aku tidak becus mengurusi pekerjaan. Aku tahu semuanya, aku melihat semua rekaman percakapan empat mata, antara dia dan atasanku. Sekarang semuanya terblaskan.

 

Pada langkah pertama aku menuju pulang, aku terperanjat mengingat pesan Bah Sapta.

 

“Hati-hati, sesajen yang ada disana, akan sangat menggiurkan. Kita jangan sampai ikut memakannya, atau kau tak bisa kembali ke dunia nyata. Kau akan terkurung disana selamanya, menjadi bangsa jin seperti mereka.”

 

Aaaaaaaaaaaaa, teriakku panjang sebelum akhirnya terkulai diatas tanah.

 

Aku tak bisa kembali. Aku sudah menjadi bangsa jin. Aku menyesali semuanya, kini aku berada di dimensi lain. Aku akan hidup ratusan bahkan ribuan tahun.

 

 TAMAT

Related Posts

2 komentar

  1. Uuunnccchhh Atut. Seperti pernah nonton film horor. Apa itu judulnya .. jadi tergambar gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terinspirasi dari Film Pencarian Terakhir, yang disutradarai Lukman Sardi. Hehe

      Hapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter