Lilis | Episode 1


Episode 1 : 

Sepagi Ini Aku mendamba, Lilis. 


"Begini Dik Arman, kami tidak bisa memutuskan hal ini dengan terburu-buru, kami harus musyawarahkan dengan keluarga. Kebetulan Lilis ini anak perempuan kami satu-satunya, kami sangat mencintai Lilis, kami sangat memikirkan masa depan Lilis. Maksud kami, mungkin Dik Arman bisa menyelesaikan kuliah dulu, sambil mencari pekerjaan juga agar nanti Dik Arman mempunyai penghasilan dan bisa bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan setelah berkeluarga. Ibu yakin rezeki itu sudah Allah atur, tapi ikhtiar juga harus tetap dilakukan, bukan? Lagi pula menurut ibu, sebagai seorang imam yang baik adalah yang mampu menafkahi anak dan istrinya lahir batin. Ibu harap Dik Arman paham dan maklum sama keputusan ini."

"Ba, baik bu. Saya paham dan mengerti maksud ibu. Insya Allah saya menerima keputusan ibu, saya juga akan fokus untuk kuliah dan cari kerja. Mudah-mudahan Allah memudahkan." Canggung sekali aku saat itu, ini diluar ekspektasi. Ya Allah, permudah urusan hamba, hamba gak kuat pengen cepet pulang, pengen cepet makan, tadi pagi hamba makan mie instan doang. Hamba butuh makan agar kuat menghadapi kenyataan.

Ini lagi! Rasanya jarum jam gak mau berlari, melambat dengak congak tak mempedulikan aku yang gemetaran sedari tadi. Sialan!

•••

Ada sebuah hutang yang harus aku bayar pagi ini, aku harus berdesak-desakan menaiki angkot kampungan, kereta, dan melewati jalanan yang sama sekali belum pernah aku lalui sebelumnya.

"Lis, Aa berangkat jam 5 subuh dari rumah, supaya nanti gak terlalu siang sampe sana. Sampaikan salam aku ke mamah ya!" Via chat whatsapp aku berkabar.

"Iya, sudah aku sampaikan salamnya. Aku juga udah bilang, besok Aa mau kesini. Mamah mengizinkan, hati-hati diperjalanan ya!"

Sedalam ini aku harus terkagum-kagum dengan seorang perempuan. Rela aku menaiki angkot yang bau ketek ibu-ibu pasar, kereta pagi yang antre tiketnya kaya bonku ke warung Mang Anwar, panjang.

Lilis, aku menemuimu besok pagi. Pastikan kau dandan rapi, tak perlu bermake-up, karena kau kan pakai cadar, tidak mungkin kelihatan.

Ah, maafkan lelucon ini.

•••

Aku banyak menulis semuanya, Lilis. Tentang kamu. Budi baik, lemah lembut, cantik, perhatian, dan banyak lagi. Tapi tidak mungkin aku tulis di Blog, aku malu. Tulisanku tak seromantis Tere Liye, Boy Candra, atau Andrea Hirata, lagi pula aku takut kamu kepedean nanti.

Aku hanyalah seorang Arman, anak tukang shiomay, gak punya rumah, gak punya pekerjaan tetap, gak punya harta melimpah, apalagi mobil istimewa. Di kamarku gak ada kamar mandinya, gak ada TVnya, harta termahalku cuma motor Mio-J putih dekil dan mungkin sekarang mesinnya sudah mulai berkarat karena belumku ganti oli enam bulan lalu,  uangnya kutabung untuk ongkos besok.

•••

Sepagi ini, Lilis. Aku mencintaimu.
Tubuh begangku mencoba untuk berperang dengan ibu-ibu pasar yang gembrot, bau ketek, dan jigong pagi. Aku yakin mereka belum pada mandi.

Kamu perlu tahu, Lilis. Jalanan disepanjang Sukabumi-Bogor jam lima pagi itu macet. Banyak pabrik disini, banyak perempuan pekerja garmen turun dari angkot buat cari duit.

Lebih menyebalkannya lagi, mereka itu cantik-cantik, Lilis. Aku harus kuat, aku harus tetap mencintaimu.

Catat! Ini perjuanganku.

Jam empat pagi tadi aku bangun, mandi; ini rekor mandi terpagiku, sarapan mie instan yang kukasbon tadi malam di warung Mang Anwar, shalat, pamit sama ibuku, dan berangkat.

Setelah lima belas menit berjalan kaki dari rumah ke simpang jalan, aku harus menunggu angkot Cidahu-Cicurug yang dimana kalo balapan sama keong, keong lah yang bakalan jadi juaranya. Tapi sekali lagi, catat! Ini perjuanganku.

Dari kejauhan angkot berwarna putih mendayu-dayu, lambat dan reot kaya aki-aki lagi puasa, didalamnya sudah berjejer rapih ibu-ibu pasar. Hadeh, teu nanaon! Setidaknya hidungku sudah dilindungi masker.

Aku mulai berdamai dengan angkot reot ini yang berjalan dengan lambat seakan tak peduli urusanku. Dari angkot ini, aku bisa belajar menghargai waktu, cinta sopir kepada keluarganya, ibu-ibu bau ketek yang gak mau kehabisan sayur untuk sarapan anaknya, dan masih banyak lagi.

Lilis, aku senang sekali pagi ini hutangku untuk rindu akan kubayar lunas.

•••

Lis, semuanya sudah berlalu. Perjalanan panjang dan asing tidak begitu berarti selama ada google maps. Jalanan yang macet, ibu-ibu pasar yang cerewet, antre tiket kereta berderet, dan cewek-cewek garmen yang menggoda pun terabaikan karena kepepet. Eh, maaf itu bercanda, Lis.

Kini aku sudah dihadapanmu, Masya Allah, aku bahagia. Kamu cantik, ibumu juga baik.

"Begini bu, maksud kedatangan saya kemari.... " Panjang lebar aku bercerita kepada ibumu, tentang siapa aku dan maksudku menemui mu. Setengah mati aku memilah dan memilih kosakata. Aku takut kampunganku keluar dari mulutku.

Aku yakin kamu juga lihat kan, Lis. Wajah ibumu seketika dingin, aku menunduk, kau? Aku gak tau, karena aku nunduk.

"Diminum dulu Dik Arman tehnya, pasti cape kan dari Sukabumi kesini." Basa-basi macam apa ini, aku tahu ibumu juga kaget dengan pernyataanku untuk mengkhitbahmu. Tapi inilah cinta, aku mencintaimu.

•••

Lilis, kamu tidak perlu sedih dan cemas tentang keputusan ibumu. Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Kamu anak perempuan satu-satunya, jadi sabarlah. Kuliah dan pekerjaanku akan aku perbaiki. Catat! Ini perjuanganku. Aku akan kembali menemuimu. Tidak hanya itu, aku akan memilikimu. Insya Allah.


Bersambung... 


"Kalau naik motor sama kamu aku rela berkorban ditilang polisi. Soalnya kita selalu bertiga, aku, kamu, dan cinta." 

~Anonymous

Related Posts

9 komentar

  1. Mantap sekali, di tunggu episode berikutnya

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, selamat pagi. Terimakasih sudah membaca cerbung Lilis. Kepoin terus AKSARAPIH ya untuk cerita menarik lainnya. Btw, udah baca cerita yang lain belum? 😁

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Openingnya bagus Kang. Bikin penasaran juga ke bagian selanjutnya. Kocak sih! Keknya Pidi Baiq bakal punya saingan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, tapi untuk berada di level seorang Pidi Baiq rasanya masih banyak yang harus dipelajari. Hehe

      Hapus
  5. Semangat Arman.. semoga berjodoh dengan Lilis hehehe ditunggu part selanjutnya..

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter