Episode 2 :
Kopi atau Kota? Jawabannya Lilis.
Perbincangan di saung reot milik tetangga sore tadi masih aku ingat, penawaran dari seorang paman kepada ponakan tak mungkin iming-iming saja. Asik nih kaya lagu Rita Sugiarto.
Serius Mang Dadin kali ini, tidak ada tanda-tanda jahil dari seorang Mang Dadin yang sedari dulu selalu membantu perekonomian keluargaku. Penawaran pasti diiringi kumisnya yang menari-nari Mang Dadin sudi membantu aku menempa diri.
"Man, kalo emang mau punya penghasilan mah, udah ajah atuh bantuin Mamang ngurus kopi"
•••
Demi tuhan, Lilis. Perjalanan pulang kemarin sore itu sangat melelahkan. Apa harus sekeras itu untuk menjemput cinta? Lagi pula kenapa kau tidak membekaliku makanan ringan atau air minum secukupnya? Kue nastar sisa lebaran yang kau suguhkan sengaja tidak ku makan, aku malu. Setidaknya didepan orang tuamu aku jangan terlihat rakus dan kampungan.
Mengingat kembali keputusan ibumu, hati aku tersenggol, Lilis. Ditambah dengan senggolan pantat ibu-ibu setengah tua yang berbagi tempat duduk denganku sewaktu di angkot tadi. Lagu Mawar Bodas dari Doel Sumbang yang diputar Pak sopir kurang lebih seperti mentertawakan kegagalanku hari ini.
Mapay jalan satapak
Ngajugjug ka hiji lembur
Henteu karasa capéna
Sabab aya nu diteléang
Ngajugjug ka hiji lembur
Henteu karasa capéna
Sabab aya nu diteléang
Hujan angin dor-dar gelap
Hunteu aya keur ngiuhan
Sanajan awak rancucut
Teu paduli kajeun teuing
Nu penting mah asal nepi
Ka tempat anu di tuju
Rék ngalongok mawar bodas
Nu moal lila ka ala
Sugan téa moal gagal
Kembang geus aya nu boga
Balik téh asa horéam leumpang gé asa ngalayang
Teu kasawang ti anggalna
Teu kapikir ti tadina
Lamun bakal nyeri haté
Horéam teu sudi teuing
Mikiran pipanyakiteun
Mikiran pipanyakiteun
Ah, sialan! Kenapa harus sesakit ini? Maksudnya sakit terjepit di sudut angkot menahan pantat si ibu. Hah, sudahlah!
•••
Antara surat kabar bekas ikan asin, internet yang penuh dengan kebohongan, dan rekan yang sama saja pengangguran; Aku mencari, aku mencari peluang kerja.
Semuanya sudah kusiapkan, foto ukuran 2x3, 3x4, kartu keluarga, ijazah SMA, dan surat yang lainnya. Aku kemas rapih.
Pabrik ke pabrik, kantor ke kantor aku jejali surat lamaran yang ku buat sebanyak mungkin. Aku merayu melalui surat lamaran, tetap saja perusahaan tak merasa terganggu. Acuh dan sama sekali tak pernah mau menggugu. Susahnya mencari pekerjaan di negeri ini. Negeri ini tidak tahu kalo ada hati yang harus ku perjuangkan agar merdeka dari kejombloan.
•••
Nomor asing menelponku.
"Hallo, selamat siang!"
"Iya, hallo. Dengan siapa ya?"
"Betul dengan Mas Arman?"
Suara perempuan itu mendayu dengan lancarnya, aku hanyut dalam kabar baik yang diterima.
"Emaaak, Arman ada panggilan kerja." Teriakku setelah ku tutup pelan penuh perasaan.
Lilis, aku akan mendapatkan pekerjaan. Aku akan mendapatkanmu. Ah, senangnya. Baju, surat-surat, charger, headphone untuk mendengarkan suaramu, dan bekal selama awal bekerja sudah kukemas. Tasku sesak, gendut, mau meledak.
•••
Lilis, kau tahu kan setiap hari aku membantu Mang Dadin ngepulper, ngejemur, dan ngeroasting kopi?
Setelah aku menerima panggilan kerja tadi, aku kembali ke rutinitas itu. Sebelum ashar, kopi sudah ku angkat dari panas yang menyiksanya, jemuran kopi hari ini cukup banyak.
"Kapan kau berangkat kerja ke kota?"
"Bagaimana kau disana?"
"Dapat kerja apa?"
"Dengan siapa disana?"
Sambil ku pindahkan kopi-kopi itu, Mang Dadin banyak tanya, sengaja tak kujawab buru-buru.
Aku gelisah, Lilis. Bukan! Bukan karena peluang kerjaku di kota, aku tidak akan kalah dengan panas, bau comberan, dan tikus got perkotaan, tapi karena aku tidak mungkin meninggalkan kopi-kopi ini. Meninggalkan Mang Dadin, apalagi meninggalkan Emak.
Setelah semuanya selesai, seperti biasanya setiap sore kita ngopi di saung milik tetangga yang reot. Maksudku saungnya yang reot, bukan tetangga kita.
"Mamang hayang ngobrol, ada yang mau Mamang ceritakan." Begitu ucapnya sebelum kami sama-sama pulang, mandi, makan, dan segera ke saung.
Ia menawarkan untuk menjadikanku pembantunya mengelola kopi. Secara, Mang Dadin sekarang sudah tidak lagi muda, kumisnya hampir putih semua.
Astaga, Lilis. Bagaimana ini? Aku harus memilih mana? Kopi atau kota?
Beberapa hari lagi aku harus berangkat memenuhi panggilan kerja. Mang Dadin? Ah, aku tidak tahu.
Aku tidak bisa langsung menjawab ajakan Mang Dadin untuk membantu bisnis kopinya, aku harus pulang, shalat maghrib dan menceritakan semuanya dengan Emak.
Pilihan Emak akan aku jadikan keputusan, Emak tau yang terbaik untuk aku. Untuk kita, Lis.
•••
"Assalamu'alaikum warohmatuloh... "
"Assalamu'alaikum warohmatuloh... "
Kita baru saja selesai shalat maghrib, aku langsung menyalami Emak. Malam itu aku bercerita banyak sekali. Emak lebih banyak diam kali ini.
Setelah aku selesai dan puas mengadu. Emak belum juga menjawab, tasbih tua yang sudah lemah masih tetap dimainkannya. Aku terdiam.
"Man, ari Emak mah gimana Arman aja. Kan Arman yang ngejalaninnya juga. Ya, kalo Emak jadi Arman mah, Emak pasti memilih membantu Mang Dadin yang jelas-jelas selalu peduli sama kita. Kamu kan tahu sendiri, Almarhum Bapak menitipkan Emak ke Mang Dadin. Lagi pula bisnis kopi itu kalo kitanya sungguh-sungguh, sabar, keyeng, pasti berhasil. Pecaya gera sama Emak, Emak mah hanya bisa ngado'a yang terbaik buat anak Emak!"
Aku yakin, mendengar kata-kata Emak, tasku yang sesak, gendut, mau meledak akhirnya kalah, terbaring, dan sia-sia.
Lis, kau dengar kan ucapan Emak?
Aku memilih kopi. Aku memilih membantu Mang Dadin. Ah, sebenarnya aku geli dengan kumisnya itu. Tapi tidak apa-apa, ini demi memiliki penghasilan untuk kuliahku. Untuk kamu.
Bismillah, semoga keputusan ini yang terbaik. Selanjutnya, masih ada banyak hal yang harus aku kerjakan, mengembangkan usaha kopi milik pamanku, Mang Dadin.
Perjuangan baru dimulai!
Bersambung...
"Untuk Lilis, do'akan aku sesekali; biar kuat, biar tangguh, biar tidak hancur karena mencintaimu sepanjang umur."



Dibawa bingung euy di eps 2:v
BalasHapusKalo ke kota, gk enak sama mang dadin. Tapi kalo mainin kopi, gitu gitu aja kayanya:v
Terus masih penasaran sama lilis, se-istimewa apa sih lilis itu?
Nanti ada episode seperti apa penghasilan si Arman di bisnis kopi, bisnisnya kan baru mulai. Hehe
HapusSi Lilis ngumpet dulu di episode ke 2. Nanti muncul kok, dikenalin juga buat klean yang penasaran seuwow apa sih si lilis. Wkwk
Edas siah beneran bisaan uey si Kakang Prabu ngadamel cerbungna, asli hade pisan erek nyaingan Pidi Baiq nu bukuna Drunken Marmut jeng dengeunna. Ngan nu jadi penasaran, ieu teh based on true story kitu? kisah nyata
BalasHapusAh, Kakanda bisa wae. Kakanda pan lebih senior dan mahir. Hehe
HapusKisah nyata atau bukan? Ya, tapi bukan kisah saya. Wkwkwk
Gaskeun... auto nyanyi eta lirik mawar bodas... Edankeun ah, pilihana sing hade.
BalasHapusGas, ngeeeeeng.
HapusEmak pemberi nasehat yang baik.
BalasHapusKapan kita ngopi sama lilis hehe
Lilis gak suka kopi, Lilis hanya suka jika ia dilamar secepatnya. Wkwk
Hapus