Lilis | Episode 3


Episode 3:
Mengenalmu Adalah Urusan Hati


Aku mengenalmu diantara kepulan uap air mendidih, bau kopi, barista yang sibuk, dan suara obrolan pengunjung yang saling balapan. Ah, sialan mataku tak bisa diajak kompromi, aku ingin melihatmu lagi, lagi, dan lagi. Bahkan ketika kedai sudah istirahat dari bisingnya, ketika bangku-bangku pengunjung sudah menjugkal diatas meja, ketika kamu pamit pulang kembali ke pengkuan kota. Kamu ingin tetap ku tatap.

Jika aku diberi kesempatan lagi untuk mengulang masa dimana pertama kali aku mengenalmu, mungkin aku akan datang lebih awal untuk mengantarkan kopi pesanan Kang Robi waktu itu, aku bakalan mandi dengan sabun baru yang anti kuman dan wangi, aku bakalan menyisir rambut, aku bakalan menggunakan parfum, aku bakalan mengenakan pakaian paling bagus yang ada di lemariku. Aku ingin membuatmu menyukaiku, meski aku tahu kamu akan bodoamat dengan bau badan dan penampilanku. Aku ingin kamu jatuh cinta saat itu juga.

Jika jatuh cintaku kepadamu ini sebuah kesalahan, maka yang seharusnya paling bertanggung jawab adalah Kang Robi. Jelas-jelas tugasku hanya mengantarkan kopi pesanannya lalu kembali pulang untuk segera tidur, bukan untuk jatuh cinta kepadamu. Jika ini sebuah dosa, mungkin aku adalah pendosa yang hebat, karena entah lah. Aku sendiri selalu heran, kenapa orang bisa begitu menjadi bodoh dan bego ketika sudah menemukan cintanya, meski itu ditemukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Konyol sekali memang. Jangan tanya kenapa! karena bakalan kujawab, entah.

Kang Robi melambaikan tangan, menyapaku dari kejauhan seolah ingin aku segera mendekat, aku tahu aku terlambat. Aku memarkirkan motor mio ku yang dekil sekarat tak terwat, segera saja  ku hampiri Kang Robi lelaki pemilik kedai ini. 

"Lis, kenalin sahabat Akang. Si Arman ini suka bantu Mang Dadin menyuplai kopi untuk kedai ini." Sambut Kang Robi langsung mengenalkanku.

"Halo, Kang Arman!" Kalimat pertamamu membuka perkenalan sambil menyalamiku tanpa jabat tangan. 

"Eh, iya." Aku membalas salammu.

"Man, kenalin ini Lilis. Adik temen Akang waktu kuliah di Jakarta. Akang mau ke pantry dulu, kamu temenin dulu Lilis ya!" Kang Robi cepat pergi sambil menjinjing kopi pesanannya yang kubawa tadi. 

Aku tak sempat menjawab. Kupikir apa salahnya untuk sekadar ngopi dan ngobrol denganmu. Ya, salah tingkah sedikit mah wajar lah ya. Merapikan rambut yang tidak kusut, menggaruk kepala padahal tidak berkutu, dan membuka layar kunci HP padahal tidak ada notifikasi, ya memang tidak ada. Maklum saja.

Tidak ada yang spesial dari obrolan kita waktu itu. Hanya saja aku tak bisa lupa. Aku tak bisa lupa dengan kesederhanaanmu, dengan bagaimana cara kamu bertutur, apalagi ketika kita berebut pendapat tentang kopi dan buku yang pernah dibaca.

Ada yang aneh dengan jam tanganku, aku merasa jarumnya berputar lebih cepat, tidak terasa kita sudah habiskan separuh malam untuk bercengkrama mengawali perkenalan. Dengan sedikit alasan aku meminta kamu untuk meninggalkan jejak nomor whatsapp untuk sewaktu-waktu bisa saling berkabar.

“Lis, kalo nanti mau diskusi lagi boleh kan?”

“Boleh aja Kang.” jawabmu

“Kalo gitu aku minta nomor whatsapp Lilis ya, biar nanti diskusinya via whatsapp.” Ah, sekenanya saja.

“08.....” Kamu menyebutkan satu persatu angka yang nantinya akan menghubungkan kita dari kejauhan, salah satu angka saja maka akan tamat.

Tentu saja kamu masih ingat dengan malam itu kan, Lis?

Bagaimana bisa aku tidak tidur sampai mau subuh. Batinku seolah tak menerimamu berpamitan. Waktu satu malam itu masih terlalu singkat, Lilis. Bagaimana mungkin kuterima, jiwaku yang sudah lama kosong sekarang sudah kurapihkan, didalamnya ada banyak sekali hal yang akan membuatmu betah untuk mengisinya. Ada buah-buahan, ada buku, ada skincare, ada banyak cokelat, ada kopi, ada bunga-bunga, ada wifi gratis sampai sepuas-puasnya. Aku yakin kamu pasti betah.

Sepulang dari kedai, aku menggulingkan tubuhku diatas kasur tanpa ranjang. Aku terus berusaha mengingat apa saja yang kita bicarakan, berharap ada sesuatu yang istimewa. Hasilya? Tidak ada. Ya, memang tidak ada. Ku ulangi lagi, ingatanku ku putar ulang ke detik pertama dimana kamu menyapaku, kamu tahu apa yang istimewa? Tidak ada. Ah, ada apa dengan fikiranku? Tidak ada yang istimewa dengan percakapan di kedai tadi. Lalu apa? Aku berfikir lebih keras lagi tetap saja jawaban sama yang aku dapatkan. TIDAK ADA.

Fikirankku terdesak bayangan wajah dan kalimat percakapanmu, heran. Kenapa? Pertanyaan itu muncul lagi. Ah, sudahlah.

Aku berusaha mengistirahatkan fikiranku, beranjak whudu karena sebentar lagi adzan subuh. Aku akan menyelipkan namamu pada do’a pendekku sehabis shalat, berharap ada jawaban. Kenapa aku bisa sebegitu lebaynya? Entahlah, mungkin karena aku baru merasakan ini. Aku hanya tidak ingin melewatkan momen ini. Ada sesuatu yang mendesakku untuk terus memikirkan kamu. Apa itu? Entah.

Diujung kalimat adzan aku menyegerakan shalat, aku merasa begitu yakin semuanya akan terjawab.

“Ya Allah, hamba teh ngarasa ada makhluk yang bernama Lilis masuk kedalam fikiranku sedari tadi. Hamba merasa ini teh kaya cinta, entahlah hamba mah tidak mau so tau. Hamba mah hanya meminta jawaban, jika ini memang benar-benar cinta hamba tidak merasa  ada yang spesial tadi malam, tapi kenapa bisa begitu mendesak? Jika memang ini cinta,tunjukan! Agar bisa hamba perjuangkan. Ya Allah, jika ini cinta permudahlah segala urusannya. Aamin.” Mungkin itulah do’a paling lebay dan bucin dalam seumur hidupku. Kamu jangan ngetawain ya, Lis.

Baiklah, semuanya sudah berlalu, pagiku yang bucin sudah sirna ditelan kantuk. Aku tertidur, bablas hingga kokok ayam ku buat sia-sia.

Aku terbangun jam 10, hari ini aku lemakr membantu Mang Dadin. Aku ingin bermalas-malasan. Aku ingin menikmati bayangan tadi malam. Sendiri saja.

“Mak, Arman mau cerita!” Aku menghampiri emakku, tempat aku mencurarkan semuanya. Jika emak adalah buku diary pasti setiap halamannya sudah penuh dengan tulisanku. Hanya saja aku tak berani mencoret-coret jidatnya dengan tinta biru, karena tentu saja dia bukan buku. Dia emakku. Emakku.

Siang itu, aku masih belum mandi, aku menceritakan tentang perkenalan kita, Lis. Tentang kenapa kamu terus masuk difikiranku? Tentang kenapa aku harus menemukan jawaban kenapa harus kamu terfikirkan?

“Man, kamu teh kaya anak kecil aja. Atuh kalo urusan cinta, urusan perasaan mah bukan tentang fikiran, bukan tentang otak atau nalar. Tapi tentang ieu yeuh!” Emak menepuk-nepuk dadaku, terdiam.

dilanjutnya ucapan Emak, “Tentang hati! Kamu sampe kapanpun moal nemuin jawaban cinta kalo pake otak, tapi harus pake hati!”

Kamu tahu Lis kenapa aku begitu menyangi Emakku?

Emak lebih hebat dari Google, Emak bisa menjawab setiap masalahku.

Aku mencari jawaban ini dengan otakku tapi tak kutemukan, tapi aku merasa ini begitu mendesak. Aku yakin, ini cinta Lis. Aku memcintaimu. Ini soal hati, Lis. Aku tak menemukan alasan di fikiranku. Tapi sekali lagi, kata Emak; Ini soal hati. Soal perasaan.



Bersambung....



Apa yang aku takutkan adalah kamu tidak pernah takut kehilanganku.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter